Ketua FKUB DKI Jakarta Ajak Jaga Kerukunan di Masjid LDII

banner 468x60

Semangat Ramadan

Jaga Kerukunan Jaga Jakarta

Oleh: Thonang Effendi*)

Setiap Ramadan tiba, para tetua Betawi kerap kembali mengenang sejarah lahirnya kota Jakarta. Kota yang sejak dahulu menjadi tempat orang-orang datang mengadu nasib, bekerja keras, mengumpulkan rezeki, lalu pulang ke kampung halaman saat Lebaran. Namun bagi orang Betawi, Jakarta bukan sekadar tempat mencari penghidupan. Jakarta adalah kampung halaman itu sendiri—tanah tempat generasi demi generasi tumbuh, hidup, dan menjaga warisan budaya.

Suasana Ramadan yang hangat juga terasa dalam sebuah malam yang syahdu di Masjid Shirothol Mustaqim, Utan Kayu, Jakarta Timur, pada akhir Februari 2026 yang bertepatan dengan 10 Ramadan 1447 H. Pada malam itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) DKI Jakarta, Dr. KH. Yusuf Aman, MA, menyampaikan tausiyah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan di bulan Ramadan di hadapan warga serta jajaran pengurus LDII Jakarta Timur. Dalam ceramahnya, beliau mengingatkan tentang sejarah panjang Jakarta sebagai kota yang dihuni oleh beragam masyarakat—baik penduduk asli Betawi maupun warga urban yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Di akhir tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan sederhana namun sangat bermakna: “Jaga Kerukunan – Jaga Jakarta.”

Jika kita menengok sejarah, keterkaitan Ramadan dengan perjalanan Jakarta bukanlah hal baru. Lima abad yang lalu, dua ulama besar—Syarif Hidayatullah dan Fatahillah—memiliki peran penting dalam peristiwa penaklukan Sunda Kelapa dari Portugis. Peristiwa tersebut terjadi pada 22 Ramadan 933 Hijriah atau 22 Juni 1527, ketika Sunda Kelapa kemudian diubah namanya menjadi Jayakarta yang berarti “kota kemenangan yang sempurna”. Kota ini kemudian dikenal sebagai Batavia pada masa kolonial Belanda, sebelum akhirnya berubah menjadi Jakarta pada masa pendudukan Jepang tahun 1942.

Sepenggal kisah sejarah itu memberikan inspirasi bahwa bulan Ramadan tidak pernah menjadi penghalang bagi perjuangan dan pengabdian. Lapar dan dahaga karena berpuasa tidak menyurutkan semangat pasukan dari Kesultanan Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah untuk melawan penjajahan Portugis. Semangat itu menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya momentum meningkatkan ibadah, tetapi juga waktu untuk memperkuat tekad dalam menegakkan kebenaran dan keadilan.

Jakarta masa kini tentu menghadapi tantangan yang berbeda dengan lima abad yang lalu. Jika dahulu masyarakat berjuang melawan penjajahan, kini Jakarta dihadapkan pada tantangan untuk mewujudkan diri sebagai kota global yang tetap berakar pada nilai budaya. Permasalahan seperti banjir, polusi udara, kemacetan lalu lintas, hingga ancaman naiknya permukaan air laut menjadi pekerjaan besar yang harus dihadapi bersama.

Di sisi lain, pesatnya pembangunan juga menghadirkan tantangan dalam menjaga identitas budaya lokal. Transformasi Jakarta menuju kota global menuntut tata kelola kota yang responsif, infrastruktur berkelas dunia, serta kebijakan yang inklusif agar seluruh warga dapat merasakan manfaat pembangunan. Dalam konteks inilah semangat “Jaga Jakarta” menjadi sangat relevan—sebuah ajakan untuk merawat kota ini secara bersama-sama.

Jakarta adalah miniatur Indonesia. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup berdampingan di dalamnya. Karena itu, menjaga kerukunan menjadi fondasi penting bagi kehidupan masyarakat Jakarta. Upaya menjaga kerukunan dapat dilakukan melalui berbagai cara, mulai dari memperkuat dialog antarumat beragama, merayakan keberagaman melalui kegiatan budaya dan keagamaan, hingga memperkuat solidaritas sosial di lingkungan masyarakat.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama berbagai elemen masyarakat terus mendorong nilai-nilai toleransi, sinergi antarumat, dan semangat gotong royong. Peran tokoh agama, tokoh masyarakat, serta organisasi kemasyarakatan menjadi sangat penting dalam merawat harmoni sosial, terutama menjelang berbagai momentum besar seperti Ramadan, Idul Fitri, maupun perhelatan demokrasi. Kerukunan bukan hanya slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat menjaga Jakarta juga tercermin dalam berbagai gerakan kolaboratif yang melibatkan aparat pemerintah, kepolisian, dan masyarakat. Program “Jaga Jakarta” yang diinisiasi oleh Polda Metro Jaya menjadi upaya memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat melalui kerja sama aktif antara aparat dan warga. Melalui apel siaga kamtibmas, patroli siskamling, serta sinergi antara aparat TNI, Polri, dan masyarakat, upaya menjaga keamanan lingkungan dilakukan secara partisipatif dan humanis.

Tidak hanya dalam aspek keamanan, gerakan Jaga Jakarta juga mencakup upaya pencegahan narkoba serta menjaga kebersihan lingkungan. Kolaborasi antara Badan Narkotika Nasional dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus diperkuat untuk menciptakan Jakarta yang bersih dari narkoba melalui edukasi, pengawasan lingkungan, serta rehabilitasi bagi para korban penyalahgunaan narkotika. Di sisi lain, gerakan Jaga Jakarta Bersih yang melibatkan ribuan relawan melalui kerja bakti massal menjadi bukti nyata bahwa kepedulian warga terhadap lingkungan kota masih sangat kuat.

Semua upaya tersebut pada akhirnya bermuara pada satu gagasan besar: Jakarta sebagai rumah bersama bagi seluruh warganya. Kota ini bukan hanya milik pemerintah, bukan pula milik kelompok tertentu, melainkan milik seluruh warganya. Konsep “Jakarta untuk Kita Semua” menekankan pentingnya rasa memiliki terhadap kota ini. Ketika warga merasa memiliki Jakarta, maka menjaga keamanan, kebersihan, serta kerukunan akan menjadi bagian dari tanggung jawab bersama.

Menjelang lima abad perjalanan sejarahnya, Jakarta terus berbenah menuju kota global yang berbudaya. Namun di balik pembangunan fisik dan kemajuan infrastruktur, kekuatan sejati Jakarta tetap terletak pada warganya—pada semangat gotong royong, toleransi, dan kebersamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri, memperkuat empati, dan mempererat persaudaraan. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi energi sosial dalam menjaga harmoni kehidupan di ibu kota. Karena itu, setiap Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen kita dalam menjaga kerukunan dan keamanan Jakarta.

Ramadan tahun ini mengajak kita untuk merenung sejenak: apa yang sudah kita kontribusikan untuk Jakarta, rumah kita bersama?

 

Penulis

Thonang Effendi

Ketua Departemen Pendidikan Umum dan Pelatihan DPP LDII

Wakil Ketua DPW LDII DKI Jakarta

Pemerhati Kebangsaan dan Pendidikan

 

 

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *